Tentang Ular Kobra

Semalam,saya dan teman saya melewati suatu toko penjual tas berbahan kulit ular. Kami pun kemudian membicarakan tentang ular. Saya menceritakan bekal yang saya dapat ketika SMP.

“Jadi, ular yang kecil dan bergerak cepat biasanya tidak berbisa. Ular yang berbisa biasanya besar dan jalannya lambat,” kata saya. Teman saya pun menimpali, “Adil ya? Yang ngga punya bisa dikasih kekuatan buat lari cepat-cepat kalau ada bahaya. Kalau yang berbisa, ya udah jalannya santai aja, kan dia bisa melindungi diri.”

Lalu saya menambahkan, “Kecuali ular kobra. Dia bergerak cepat, berjalan cepat, dan berbisa mematikan.” Teman saya pun heran, “Kenapa ya? Apa yang dia takutkan?”

“Iya,” jawab saya, “Ular-ular kecil lain yang berjalan cepat pasti iri karena mereka tak punya bisa. Ular besar yang berbisa pasti juga iri pada si Kobra, karena badannya lebih langsing dari mereka.” Teman saya pun tertawa.

Dan saya mulai berpikir… Kobra memang terlihat sempurna dibandingkan ular lain, tapi ia juga punya banyak ketakutan, maka dari itu ia mempunyai banyak senjata untuk menyerang musuhnya.

Ya, kadang-kadang, manusia, binatang, atau apa pun, bisa terlihat gagah dan punya kekuatan. Tapi sebenarnya kekuatan yang besar itu dibutuhkan untuk menghadapi ketakutan yang lebih besar lagi.

Lalu pagi ini, saya menyadari. Ular kobra takut pada elang, yang bisa mengambilnya kapan pun tanpa ia bisa bersiap. Secepat apa pun larinya, seganas apapun bisanya, ia tak berdaya ketika elang menangkapnya.

Epilog

Aku telah menutupmu. Cerita kemarin dan segala tanya yang belum terjawab. Sekelumit kehangatan yang menjejakkan kehampaan abadi. Kabut yang tak akan pernah bisa aku genggam. Seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

Kisah tentangmu tak akan pernah bisa aku sembunyikan. Tapi aku telah menutupmu… dan membisikkan harapan agar angin menerbangkanmu ke gunung tinggi yang tak akan pernah kudaki. Sementara aku berdiri di dermaga, bersiap percaya pada gelombang, yang akan membawaku entah ke mana.

Pergilah.
Pergi.
Jauh.

Your Hallucination

You see that man. He is so real. You can hear his voice and you feel happy everytime he touches you. He comes everytime you need him and gives you all you need. He is so big and powerful, and he loves you so much. You fall in love with him, and this love has started since so long ago. But no one could see this man. Not even your family and your friends. They know it is only your hallucination.

Your hallucination is your wish. A wish that never came true, but you wanted it to be real. So your mind helped you to make it real. Then your wish came true, it feel so real, but no one could see it. You are talking to the man, but no one see him. And they started to say that you are insane. You could just take the pill and the hallucination would suddenly disappear. Then people would stop calling you insane.

But what would happen when the man who loves you suddenly disappear? You might feel alone. You might be sad to realize that he is not real. You might wish you never let him go. You might wish you never ate that pill.

All you need was not that pill. The man was there because you need love. Something that your friends or family never gave. Or something that they have given to you, but you still feel that it wasn’t enough. All you need is family and friends who would not call you insane. All you need is love or the feeling that you are loved. Once you have it, you’ll be ready to say goodbye to the man others could never see.

Seragam Kotak-kotak Merah

Satu hal terakhir yang aku ingat tentang masa itu. Seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

Aku memandangimu berjalan sendiri dengan seragam kotak-kotak merah itu. Dan aku, dengan mengenakan seragam kotak-kotak merahku, hanya memandangimu, sambil terus diam tanpa kata. Lalu kita terpisah. Namun, aku masih sering memandangimu berjalan sendiri. Meski kita tak lagi mengenakan seragam yang sama. Meski tak lagi kita kenakan seragam kotak-kotak merah itu.

Dan cerita ini belum berakhir. Meski bukan lagi tentang seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

Rautan Pensil

Masih kuingat jelas satu percakapan pada masa itu. Seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

“Boleh pinjam rautanmu?” tanya seorang teman padaku. Aku terdiam. Aku tak tahu apa yang dia katakan.  Aku tak tahu apa itu rautan. Apalagi, aku takut dengan teman ini. Anak laki-laki yang selalu dibilang bu Guru sebagai anak yang paling nakal. Aku hanya diam. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Lalu, entah dari mana kau datang, “Oh, rautan?” tanyamu padanya, “Ini, pakai punyaku.” Kulihat kau memberikan sesuatu padanya. Oh, ternyata benda kecil yang sering kupakai untuk meruncingkan pensilku itu bernama rautan.

Ya, dalam percakapan itu kita tak saling bicara. Tapi aku senang kamu ada. Karena inilah satu-satunya potongan kenangan yang kuingat tentangmu pada masa itu. Seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

K-A-U

Kita berawal sebagai teman. Seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

‘K-A-U’. Sering kueja tiga huruf itu saat menonton film. Aku tidak tahu kenapa tiga huruf tersebut sering muncul pada teks di layar televisiku di setiap percakapan antara dua orang asing.

Lalu hari itu, guru kita datang padaku. Ia membawa teks drama dan memintaku untuk membacanya. Drama Natal itu adalah naskah pertama yang melatihku lancar membaca. Dan di sana, muncul lagi ketiga huruf itu: ‘K-A-U’. Aku membacanya dengan kaku. “Kaa-U,” begitu kataku, sambil memandang ragu pada bu guru. Lalu dengan sabarnya ia mengoreksi, “Oh, itu dibacanya ‘KAU’, bukan ‘Ka-U’.”

Ya, KAU.
KAU adalah diftong pertama yang kubaca.
Dan, KAU adalah pemeran utama cerita ini bersamaku.

Lalu berawal cerita ini. Seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.