Tentang Hobi

Hobi adalah sesuatu menyenangkan yang dilakukan di waktu senggang, yang membuat kita siap kembali ke rutinitas sehari-hari :-)

St. Basil's Cathedral

Dan tak peduli berapa usia kita (sudah terlambat 20 tahun bagi saya untuk memulai hobi ini), dan seberapa banyak harus merogoh kocek, secara psikologis, saat melakukan hal yang menyenangkan seperti hobi, kita mengalami proses relaksasi emosi.

Selamat Ulang Tahun, Teman

Bahwa aku telah kehilanganmu, adalah kenyataan yang tidak bisa kuubah.
Bahwa aku terus mengenangmu, adalah hal yang akan selalu kulakukan.
Bahwa aku masih masih terjebak dalam perasaan kehilangan, adalah suatu hal yang harus aku perbaiki lagi.
Hidupmu telah berlabuh di suatu tempat yang damai. Tapi aku masih harus mengayuh dan bergerak maju.

Selamat ulang tahun, teman.
Rayakan suka citamu dalam kebahagiaan yang abadi.

Tentang Menang dan Kalah

Suatu hari saya pernah bermain halma dengan teman saya dan seorang klien saya, yang masih berusia SD. Masing-masing dari kami harus menggerakkan seluruh bidak halma yang kami miliki ke daerah musuh. Logikanya, kalau semakin banyak kita menyerang, semakin pertahanan kita melemah, tapi kemungkinan untuk menang lebih tinggi. Sebaliknya, semakin kita bertahan, memang musuh jadi tidak bisa menyerang kita, tapi kita pun jadi tidak bisa menang.

Saya dan teman saya bermain menyerang, dan dengan sigap kami berhasil menguasai daerah musuh yang kosong. Tapi tidak klien saya. Ia tetap bertahan di tempatnya, ia sama sekali tidak mau menyerang, sampai akhirnya sudah mentok. Sudah tidak ada lagi gerakan yang mungkin dilakukan, kecuali jika dia mau keluar dari sarangnya. Tapi ia tetap tidak mau keluar dari sarangnya. Lalu akhirnya, dia mutung. Memberantakkan papan halmanya dan memalingkan muka.

Saya tidak ingin bercerita tentang bagaimana dua orang dewasa, yaitu saya dan teman saya, berusaha mengalahkan seorang anak SD di permainan halma. Ada alasan tersendiri kenapa kami melakukannya di sesi terapi tersebut. Tapi ini lebih tentang kalah dan menang, dan bagaimana kita mengatasinya. Memang selalu ada risiko jika kita ingin memenangkan sesuatu. Ada yang harus kita korbankan untuk meraih mimpi kita. Dan dalam usaha memenangkan sesuatu, mungkin saja kita akan jatuh dan kalah. Tapi ini hanyalah proses, yang jauh lebih berharga ketimbang hanya diam dan takut menghadapi kemungkinan untuk kalah. Ketimbang hanya diam, dan membiarkan semua impian terbang jauh.

Ini adalah hal yang ingin disampaikan teman saya (yang sebetulnya adalah senior saya) kepada klien saya. Dan untungnya saya juga berada di sana saat itu, jadi saya bisa ikut belajar tentang kalah dan menang, serta berproses.
Lesson learned.

Cerita Kemarin tentang Seorang Teman

Apa yang bisa ditulis di hari 5 tahun meninggalnya seorang teman?

Tidak, saya sama sekali tidak akan mengatakan bahwa selama lima tahun ini saya terus berduka. Tidak seperti itu. Memang, ada saatnya saya merasa berduka, tapi setelah 2 tahun, perlahan semua perasaan duka itu mengikis. Tidak semua hal yang saya pikirkan adalah tentang Shinta. Perlahan kepentingan-kepentingan pribadi mulai muncul, dan perlahan saya menyadari tentang hidup yang sesungguhnya.

Hidup mulai menumbuhkan berbagai persoalan dan tantangannya. Rasanya waktu terus mengejar saya untuk meraih ambisi dan impian. Kesibukan menjadi alasan utama saya mulai kehilangan kesempatan untuk sekedar menikmati waktu dengan teman lama. Dan mungkin jika Shinta masih hidup sekarang ini, saya pikir akan sama jadinya seperti hubungan saya dengan teman-teman saya yang lain: kami akan sangat sulit untuk menemukan waktu luang untuk sekedar bertemu, apalagi bercerita, apalagi berbagi.

Ini bukan drama yang seakan tak pernah henti memikirkan tentang mereka yang telah pergi. Ini adalah hidup yang nyata. Kehidupan biasa yang mungkin, di saat sakitnya, pernah sangat diinginkan oleh Shinta. Tapi ia menutup kisahnya di waktu muda, ketika impian masih bertumbuh dan berharap jadi nyata.

Dan kini, Shinta adalah cerita kemarin. Cerita tentang hidup, masa muda, dan keceriaan yang tak pernah pudar. Mungkin dia takkan pernah kembali, tapi selalu tinggal di hati kami.

Selamat datang, Juni :-)

That’s life. that’s what all the people say…
You’re riding high in April,
shot down in May.
But I know I’m gonna change that tune.
When I’m back on top, back on top in June.

That’s Life – Frank Sinatra

Tanpa bermaksud terkesan sok bijaksana, saya ingin menuliskan bahwa saya rasa hidup memang berjalan seperti roda. April, saya merasa berhasil dengan apa yang saya kerjakan, tapi Mei, saya jatuh. Benar-benar kehilangan motivasi dan akhirnya memutuskan untuk pulang. Lalu kini, Juni datang. Saya rasa saya belum siap untuk mengatakan saya akan bangkit, tapi saya harus siap.

Saya akan mencoba untuk memasukkan sebanyak mungkin sugesti positif dan optimis ke dalam otak saya, dan ketika pikiran saya telah mengatakan bahwa saya bisa, seluruh tubuh dan seluruh dunia pasti akan membantu agar saya bisa. So June, please be good to me. I promise I’ll try my best :-)

Selamat menikmati bulan Juni :-)

Tentang Kemarin dan Cita-cita

Mungkin memang sudah seharusnya saya mengawali blog baru ini dengan cita-cita.

Ya, cita-cita. Sama seperti pertanyaan sederhana yang diberikan pada saya ketika masih anak-anak, “Apa cita-citamu?”. Dengan keceriaan dan semangat, saya katakan saya ingin menjadi astronot. Saya punya mimpi untuk keluar dari bumi ini.

Tapi sekarang, belasan tahun setelah saya menggantungkan cita-cita untuk menaklukkan tata surya, ternyata saya bahkan belum mampu menaklukkan pikiran saya sendiri. Cita-cita saya pun telah banyak berubah sejak itu. Saya pernah ingin menjadi guru atau wartawan ketika SD, sedangkan di data siswa di SMP, tertulis bahwa cita-cita saya adalah arsitek, tanpa saya pernah ingat alasan saya menuliskan arsitek di situ. Saya juga sempat ingin menjadi pemain musik. Pemain biola profesional tepatnya. Lalu saya ingin menjadi penulis, dokter gigi, dan akhirnya guru TK, yang kemudian membuat saya memutuskan untuk mengambil jurusan psikologi.

Lalu kini, setahun setelah saya lulus sebagai sarjana psikologi, hal yang bisa saya katakan adalah… saya pernah mendapatkan cita-cita saya. Bukan cita-cita yang pernah saya sebutkan waktu kecil, tetapi pekerjaan yang benar-benar saya impikan dan memang sesuai dengan saya. Tapi, karena suatu alasan, saya melepaskannya. Tantangan yang menyertai cita-cita saya terlampau berat, bukan hanya untuk hidup saya di saat ini, tapi untuk seterusnya. Maka saya mencoba pekerjaan lain yang saya pandang lebih realistis. Dan setelah saya mencoba lalu gagal, saya kembali berada pada persimpangan: Haruskah saya kembali pada cita-cita saya yang disertai dengan tantangan yang mungkin tak kan berakhir?