Sinterklas dan Permohonan Saya

Santa PapercraftSuatu hari, ketika saya masih kecil, kakak saya memberitahu saya bahwa Sinterklas akan datang pada malam Natal. Tradisi di Barat, kata dia waktu itu, adalah menaruh rumput di kaos kaki yang biasanya digantung di dekat perapian. Sinterklas akan datang lewat cerobong asap, lalu menaruh hadiah di kaos kaki itu. Tapi, lagi-lagi kata kakak saya, karena di rumah kami tidak ada cerobong asap, dan tidak ada tempat untuk menggantung kaos kaki, jadi, rumput ditaruh di sepatu, dan diletakkan di rak sepatu.

Malam itu, kami bersemangat. Keluar rumah, mengambil rumput di halaman, menaruhnya di sepatu, lalu berdoa meminta hadiah dari Sinterklas. Paginya, voila, hadiah muncul di atas sepatu kami. Dan itu terjadi tiap tahun. Tapi sejujurnya, saya kecewa. Bagaimana tidak? Saya tidak pernah berhasil menahan kantuk dan selalu tidur sebelum Sinterklas datang. Dan saya pikir, karena itulah, hadiah yang saya dapatkan selalu berbeda dengan permohonan dalam doa saya. Saya sampai tidak begitu ingat kado apa saja yang pernah saya dapat. Kado terbaik yang saya ingat adalah rautan pensil besar. Mmm, saya rasa Santa bercanda deh.

Pernah suatu malam Natal, saya berhasil bertahan hingga tengah malam. Kebetulan waktu itu, Pakdhe saya datang ke rumah sambil membawakan sebuah boneka beruang untuk kami, yang kemudian kami namai Luna. Orang tua saya bilang, tahun ini Pakdhe yang jadi Sinterklas. Saya tidak percaya. Pakdhe saya, Jawa tulen, kulit sawo matang, badan kurus, rambut hitam, dan tak punya jenggot. Jelas saja beliau jauh berbeda dengan Santa. Malam itu, Pakdhe mengobrol dengan orang tua saya sampai larut malam. Saya ikut terjaga dan berharap bisa bertemu Sinterklas. Tapi, ternyata Sinterklas tidak datang. Oh, jadi begitu rupanya. Karena Pakdhe sudah memberi kami hadiah Natal, lalu Sinterklas merasa dibebastugaskan dan boleh melewatkan rumah saya. Lagi-lagi saya kecewa.

Papercraft - Christmas' SockSinterklas, bagi saya, tidak seperti film-film yang saya lihat di televisi. Sinterklas yang sesungguhnya, yang saya tahu, tidak selalu memberikan semua hal yang kita mohonkan. Ya mungkin saya kecewa. Tapi dari situ saya belajar, bahwa kita boleh saya memohonkan sesuatu, tapi kita juga harus siap untuk menerima bahwa yang kita dapatkan belum tentu apa yang kita mohonkan. Dan tetap kita harus bersyukur atas apa yang kita dapatkan, jangan seperti saya yang kecewa dan lupa bersyukur. Kadang, ketika kita terlalu memohon sesuatu, kita jadi kurang menyadari apa yang sudah kita dapatkan. Ya, seperti saya yang kurang menyadari betapa beruntungnya saya mendapatkan Luna, rautan pensil, dan hadiah-hadiah lain yang terlupa dari ingatan saya.

Kalau Sinterklas tidak mengajarkan itu pada saya sejak kecil, mungkin sekarang saya akan kaget dan bingung tiap kali keinginan saya tidak terwujud. Jadi, terimakasih, Kakek Sinterklas (Anda sudah terlalu tua untuk dipanggil Pak). Terimakasih untuk pelajaran yang Anda berikan dalam hidup. (Meskipun saya masih penasaran, masa tidak sekalipun permohonan Natal saya dikabulkan?)

Selamat Natal, semuanya.
Semoga semua harapan dan permohonan terkabul. Jika belum terkabul, itu mungkin karena kita memang sudah mempunyai banyak hal untuk disyukuri :-)

Celoteh Anak: Tentang Sholat Ghoib dan Aqiqah

Di sela-sela membuat maket bersama seorang klien saya, anak laki-laki kelas 5 SD, tiba-tiba saja dia bercerita, ”Gigiku tadi putus, mbak.” katanya. Belum sempat saya menanggapi, dia melanjutkan ceritanya, “Terus aku Sholat Ghoib, biar kalau pas aku udah ngga ada, bisa ketemu lagi di sana.” Antara bingung harus berkomentar apa dan merasa ini sedikit lucu, saya bertanya, “Sholatnya sama siapa?” Lalu dia menjawab, “Sama adek.”

Adiknya, perempuan, masih bersekolah di Playgroup. Saya sedikit geli membayangkan 2 anak kecil sholat di depan sebuah gigi putus (dan saya melihat keseriusan di wajah anak ini). Saya tanyakan apa ia sudah bercerita ke ibunya, dia bilang, “Belum. Ibu masih belum pulang kerja tadi,” katanya. Saat saya titipkan pesan untuk bercerita ke ibunya, dia menjawab “Iya.” dengan penuh semangat, lalu kembali mengerjakan maketnya.

Selang beberapa waktu, ia bercerita lagi. “Aku punya hamster di rumah, kemarin habis melahirkan. Terus bayinya aku potong bulunya,” katanya. Sedikit bingung, saya bertanya, “Kenapa dipotong bulunya?”. Dengan semangat dia menjawab, “Kan Aqiqah-an”.

Kali ini saya tidak bisa menahan tawa, saya bilang saya tidak tahu bagaimana tata cara Aqiqah-an itu, tapi ini terdengar lucu bagi saya. Anak ini ikut tersenyum, merasa bangga atas ide yang ia lakukan.

Lalu saya tanya, “Kalau Aqiqah-an biasanya kan nyembelih kambing, yang ini juga nyembelih sesuatu?”. Dia pun menjawab, “Aku pengin nyembelih ayam. Tapi kata Ibu sembelih wortel saja,” katanya. “Lalu wortelnya dibagikan ke siapa?” tanya saya. Dengan semangat dia menjawab, “Ke hamster-hamster yang lain.”

Hmm… saya bukan Muslim dan saya tidak tahu secara hukum bagaimana, tapi menurut saya, apa yang dilakukan klien saya ini adalah perpaduan antara belajar untuk mengikuti aturan agama dan mencintai hal-hal kecil di sekitar mereka. Dan tentunya, ini dilakukan dengan cara mereka sendiri, cara anak-anak yang lucu dan sederhana :-)

Tentang Hobi

Hobi adalah sesuatu menyenangkan yang dilakukan di waktu senggang, yang membuat kita siap kembali ke rutinitas sehari-hari :-)

St. Basil's Cathedral

Dan tak peduli berapa usia kita (sudah terlambat 20 tahun bagi saya untuk memulai hobi ini), dan seberapa banyak harus merogoh kocek, secara psikologis, saat melakukan hal yang menyenangkan seperti hobi, kita mengalami proses relaksasi emosi.

Selamat Ulang Tahun, Teman

Bahwa aku telah kehilanganmu, adalah kenyataan yang tidak bisa kuubah.
Bahwa aku terus mengenangmu, adalah hal yang akan selalu kulakukan.
Bahwa aku masih masih terjebak dalam perasaan kehilangan, adalah suatu hal yang harus aku perbaiki lagi.
Hidupmu telah berlabuh di suatu tempat yang damai. Tapi aku masih harus mengayuh dan bergerak maju.

Selamat ulang tahun, teman.
Rayakan suka citamu dalam kebahagiaan yang abadi.

Tentang Menang dan Kalah

Suatu hari saya pernah bermain halma dengan teman saya dan seorang klien saya, yang masih berusia SD. Masing-masing dari kami harus menggerakkan seluruh bidak halma yang kami miliki ke daerah musuh. Logikanya, kalau semakin banyak kita menyerang, semakin pertahanan kita melemah, tapi kemungkinan untuk menang lebih tinggi. Sebaliknya, semakin kita bertahan, memang musuh jadi tidak bisa menyerang kita, tapi kita pun jadi tidak bisa menang.

Saya dan teman saya bermain menyerang, dan dengan sigap kami berhasil menguasai daerah musuh yang kosong. Tapi tidak klien saya. Ia tetap bertahan di tempatnya, ia sama sekali tidak mau menyerang, sampai akhirnya sudah mentok. Sudah tidak ada lagi gerakan yang mungkin dilakukan, kecuali jika dia mau keluar dari sarangnya. Tapi ia tetap tidak mau keluar dari sarangnya. Lalu akhirnya, dia mutung. Memberantakkan papan halmanya dan memalingkan muka.

Saya tidak ingin bercerita tentang bagaimana dua orang dewasa, yaitu saya dan teman saya, berusaha mengalahkan seorang anak SD di permainan halma. Ada alasan tersendiri kenapa kami melakukannya di sesi terapi tersebut. Tapi ini lebih tentang kalah dan menang, dan bagaimana kita mengatasinya. Memang selalu ada risiko jika kita ingin memenangkan sesuatu. Ada yang harus kita korbankan untuk meraih mimpi kita. Dan dalam usaha memenangkan sesuatu, mungkin saja kita akan jatuh dan kalah. Tapi ini hanyalah proses, yang jauh lebih berharga ketimbang hanya diam dan takut menghadapi kemungkinan untuk kalah. Ketimbang hanya diam, dan membiarkan semua impian terbang jauh.

Ini adalah hal yang ingin disampaikan teman saya (yang sebetulnya adalah senior saya) kepada klien saya. Dan untungnya saya juga berada di sana saat itu, jadi saya bisa ikut belajar tentang kalah dan menang, serta berproses.
Lesson learned.

Cerita Kemarin tentang Seorang Teman

Apa yang bisa ditulis di hari 5 tahun meninggalnya seorang teman?

Tidak, saya sama sekali tidak akan mengatakan bahwa selama lima tahun ini saya terus berduka. Tidak seperti itu. Memang, ada saatnya saya merasa berduka, tapi setelah 2 tahun, perlahan semua perasaan duka itu mengikis. Tidak semua hal yang saya pikirkan adalah tentang Shinta. Perlahan kepentingan-kepentingan pribadi mulai muncul, dan perlahan saya menyadari tentang hidup yang sesungguhnya.

Hidup mulai menumbuhkan berbagai persoalan dan tantangannya. Rasanya waktu terus mengejar saya untuk meraih ambisi dan impian. Kesibukan menjadi alasan utama saya mulai kehilangan kesempatan untuk sekedar menikmati waktu dengan teman lama. Dan mungkin jika Shinta masih hidup sekarang ini, saya pikir akan sama jadinya seperti hubungan saya dengan teman-teman saya yang lain: kami akan sangat sulit untuk menemukan waktu luang untuk sekedar bertemu, apalagi bercerita, apalagi berbagi.

Ini bukan drama yang seakan tak pernah henti memikirkan tentang mereka yang telah pergi. Ini adalah hidup yang nyata. Kehidupan biasa yang mungkin, di saat sakitnya, pernah sangat diinginkan oleh Shinta. Tapi ia menutup kisahnya di waktu muda, ketika impian masih bertumbuh dan berharap jadi nyata.

Dan kini, Shinta adalah cerita kemarin. Cerita tentang hidup, masa muda, dan keceriaan yang tak pernah pudar. Mungkin dia takkan pernah kembali, tapi selalu tinggal di hati kami.