Lakshmaṇa Rekhā

Dalam wiracarita Ramayana, Lakshmaṇa Rekhā adalah garis batas yang dibuat oleh Lakshmana, mengitari kediaman Rama dan Shinta untuk melindungi Shinta dari bahaya, saat Rama dan Lakshmana harus pergi. Garis ini akan melindungi kediaman mereka dari binatang buas atau apa pun yang mengancam. Shinta akan aman dari segala ancaman selama ia tidak keluar dari garis batas tersebut.

Tapi kelemahan Shinta (yang salah satu teman saya melakukan generalisasi dengan mengatakan: “bodohnya perempuan”) adalah ia tanpa sadar keluar dari batas itu saat ia iba melihat seorang Brahmana yang meminta sedekah. Brahmana yang ternyata adalah jelmaan dari Rahwana tersebut akhirnya menculik Shinta.

Entah laki-laki, entah perempuan, entah bodoh, entah tidak, akhir-akhir ini saya menyadari bahwa semua orang mempunyai batasan masing-masing seperti Lakshmaṇa Rekhā ini. Tidak semua seperti Shinta, tidak semua dengan mudahnya keluar dari batasan karena iba. Ada yang tetap diam dalam kecemasan di dalamnya. Ada pula yang keluar dengan bebasnya tanpa menghiraukan batasannya.

Dan bagi saya, salah satu keputusan tersulit yang mungkin dibuat setiap orang dalam hidupnya adalah menentukan saat yang tepat untuk melewati batas itu. Apa hal yang dapat menarik kita keluar dari batasan itu? Atau, apa hal yang bahkan lebih menarik lagi yang membuat kita ingin memasukkannya dalam garis batas, ada dalam ruang nyaman bersama kita?

26 tahun saya hidup dan saya merasa masih belum cukup dewasa untuk mampu memutuskan hal tersebut dengan benar.

Catatan mendadak di Minggu pagi setelah akhirnya mendapatkan kualitas tidur yang baik.

Tentang Menunda dan Tertunda

Image from sxc.hu

Saya ingat suatu hari ketika saya masih SMP, saya dan beberapa teman mengikuti suatu perlombaan yang diadakan sekolah lain. Kami berlatih selama beberapa waktu sebelum perlombaan, dan ternyata waktu latihan itu bertabrakan dengan jadwal ulangan umum. Kami harus belajar membagi waktu antara berlatih dan juga jadwal ulangan umum, padahal hari perlombaan sudah dekat.

Karena sangat gugup dan bingung, suatu hari seorang teman saya bertanya pada Pak Kepala Sekolah, “Pak, bolehkah jika khusus untuk kami yang ikut lomba, diberikan keringanan agar ulangan umumnya ditunda? Kami sangat bingung antara harus fokus latihan dan belajar untuk ulangan umum.”

Waktu itu saya masih SMP. Masih cupu dan belum banyak tahu tentang pelajaran hidup. Karena itu, jawaban Bapak Kepala Sekolah masih sangat-sangat membekas di ingatan saya. Beliau bilang, “Oke, jika ulangan umum untuk kalian ditunda, apakah kalian merasa lega? Kalian mungkin bisa lega sebentar, tapi setelah itu, setelah teman-teman yang lain selesai ulangan umum, kalian masih harus belajar untuk ulangan umum. Jadi sama saja, perasaan gugup dan bingung kalian cuma tertunda sebentar, tapi setelah itu masih ada. Akan lebih baik kalau kalian menyelesaikan kedua tugas itu segera, dan setelah itu benar-benar merasa lega.”

Itu pelajaran sederhana yang mungkin semua orang sudah pahami. Tapi hal ini masih membekas di ingatan saya karena Bapak Kepala Sekolah saya yang menyampaikan itu. Dari situ, saya pun berusaha untuk tidak menunda-nunda tugas saya, karena penundaan hanya membuat saya merasa tenang sesaat, tapi tugas tidak terselesaikan. Tapi saya hanya berusaha untuk tidak menunda ya. Prakteknya, sih usahanya sering gagal :-D

Lalu saat ini, terkait dengan tugas saya, saya mengalami suatu rintangan yang cukup mendebarkan buat saya. Saya bisa bilang saya dibuat frustasi karena masalah ini. Saya mengumpulkan seluruh keberanian saya untuk menghadapinya, meskipun saya takut setengah mati. Tapi kali ini, situasinya berbeda. Usaha saya untuk menghadapi rintangan ini tertunda, bukan saya yang menunda, dan ini di luar kuasa saya.

Memang sih, di hati kecil saya ada sedikit keinginan yang berkata, “Udah deh, tugas ini ditunda aja, atau dilimpahkan ke orang lain.” Tetapi saya berusaha sekuat tenaga untuk bertanggung jawab dan tidak menunda. Lalu ternyata ketika saya sudah berniat menyelesaikan, tugas ini malah tertunda karena beberapa hal. Sudah dua kali tertunda. Dua kali saya berusaha mengumpulkan seluruh keberanian saya, dan akhirnya tertunda lagi. Lalu besok, saya harus berusaha menghadapinya lagi?

Bagaimana perasaan saya? Mmmm… entahlah. Saya bingung.  Kecemasan dan kegugupan bercampur jadi satu dan saya bingung bagaimana mengatasinya. Saya juga tidak tahu apalagi yang bisa saya lakukan kecuali dengan menulis tulisan ini.

Sinterklas dan Permohonan Saya

Santa PapercraftSuatu hari, ketika saya masih kecil, kakak saya memberitahu saya bahwa Sinterklas akan datang pada malam Natal. Tradisi di Barat, kata dia waktu itu, adalah menaruh rumput di kaos kaki yang biasanya digantung di dekat perapian. Sinterklas akan datang lewat cerobong asap, lalu menaruh hadiah di kaos kaki itu. Tapi, lagi-lagi kata kakak saya, karena di rumah kami tidak ada cerobong asap, dan tidak ada tempat untuk menggantung kaos kaki, jadi, rumput ditaruh di sepatu, dan diletakkan di rak sepatu.

Malam itu, kami bersemangat. Keluar rumah, mengambil rumput di halaman, menaruhnya di sepatu, lalu berdoa meminta hadiah dari Sinterklas. Paginya, voila, hadiah muncul di atas sepatu kami. Dan itu terjadi tiap tahun. Tapi sejujurnya, saya kecewa. Bagaimana tidak? Saya tidak pernah berhasil menahan kantuk dan selalu tidur sebelum Sinterklas datang. Dan saya pikir, karena itulah, hadiah yang saya dapatkan selalu berbeda dengan permohonan dalam doa saya. Saya sampai tidak begitu ingat kado apa saja yang pernah saya dapat. Kado terbaik yang saya ingat adalah rautan pensil besar. Mmm, saya rasa Santa bercanda deh.

Pernah suatu malam Natal, saya berhasil bertahan hingga tengah malam. Kebetulan waktu itu, Pakdhe saya datang ke rumah sambil membawakan sebuah boneka beruang untuk kami, yang kemudian kami namai Luna. Orang tua saya bilang, tahun ini Pakdhe yang jadi Sinterklas. Saya tidak percaya. Pakdhe saya, Jawa tulen, kulit sawo matang, badan kurus, rambut hitam, dan tak punya jenggot. Jelas saja beliau jauh berbeda dengan Santa. Malam itu, Pakdhe mengobrol dengan orang tua saya sampai larut malam. Saya ikut terjaga dan berharap bisa bertemu Sinterklas. Tapi, ternyata Sinterklas tidak datang. Oh, jadi begitu rupanya. Karena Pakdhe sudah memberi kami hadiah Natal, lalu Sinterklas merasa dibebastugaskan dan boleh melewatkan rumah saya. Lagi-lagi saya kecewa.

Papercraft - Christmas' SockSinterklas, bagi saya, tidak seperti film-film yang saya lihat di televisi. Sinterklas yang sesungguhnya, yang saya tahu, tidak selalu memberikan semua hal yang kita mohonkan. Ya mungkin saya kecewa. Tapi dari situ saya belajar, bahwa kita boleh saya memohonkan sesuatu, tapi kita juga harus siap untuk menerima bahwa yang kita dapatkan belum tentu apa yang kita mohonkan. Dan tetap kita harus bersyukur atas apa yang kita dapatkan, jangan seperti saya yang kecewa dan lupa bersyukur. Kadang, ketika kita terlalu memohon sesuatu, kita jadi kurang menyadari apa yang sudah kita dapatkan. Ya, seperti saya yang kurang menyadari betapa beruntungnya saya mendapatkan Luna, rautan pensil, dan hadiah-hadiah lain yang terlupa dari ingatan saya.

Kalau Sinterklas tidak mengajarkan itu pada saya sejak kecil, mungkin sekarang saya akan kaget dan bingung tiap kali keinginan saya tidak terwujud. Jadi, terimakasih, Kakek Sinterklas (Anda sudah terlalu tua untuk dipanggil Pak). Terimakasih untuk pelajaran yang Anda berikan dalam hidup. (Meskipun saya masih penasaran, masa tidak sekalipun permohonan Natal saya dikabulkan?)

Selamat Natal, semuanya.
Semoga semua harapan dan permohonan terkabul. Jika belum terkabul, itu mungkin karena kita memang sudah mempunyai banyak hal untuk disyukuri :-)

Celoteh Anak: Tentang Sholat Ghoib dan Aqiqah

Di sela-sela membuat maket bersama seorang klien saya, anak laki-laki kelas 5 SD, tiba-tiba saja dia bercerita, “Gigiku tadi putus, mbak.” katanya. Belum sempat saya menanggapi, dia melanjutkan ceritanya, “Terus aku Sholat Ghoib, biar kalau pas aku udah ngga ada, bisa ketemu lagi di sana.” Antara bingung harus berkomentar apa dan merasa ini sedikit lucu, saya bertanya, “Sholatnya sama siapa?” Lalu dia menjawab, “Sama adek.”

Adiknya, perempuan, masih bersekolah di Playgroup. Saya sedikit geli membayangkan 2 anak kecil sholat di depan sebuah gigi putus (dan saya melihat keseriusan di wajah anak ini). Saya tanyakan apa ia sudah bercerita ke ibunya, dia bilang, “Belum. Ibu masih belum pulang kerja tadi,” katanya. Saat saya titipkan pesan untuk bercerita ke ibunya, dia menjawab “Iya.” dengan penuh semangat, lalu kembali mengerjakan maketnya.

Selang beberapa waktu, ia bercerita lagi. “Aku punya hamster di rumah, kemarin habis melahirkan. Terus bayinya aku potong bulunya,” katanya. Sedikit bingung, saya bertanya, “Kenapa dipotong bulunya?”. Dengan semangat dia menjawab, “Kan Aqiqah-an”.

Kali ini saya tidak bisa menahan tawa, saya bilang saya tidak tahu bagaimana tata cara Aqiqah-an itu, tapi ini terdengar lucu bagi saya. Anak ini ikut tersenyum, merasa bangga atas ide yang ia lakukan.

Lalu saya tanya, “Kalau Aqiqah-an biasanya kan nyembelih kambing, yang ini juga nyembelih sesuatu?”. Dia pun menjawab, “Aku pengin nyembelih ayam. Tapi kata Ibu sembelih wortel saja,” katanya. “Lalu wortelnya dibagikan ke siapa?” tanya saya. Dengan semangat dia menjawab, “Ke hamster-hamster yang lain.”

Hmm… saya bukan Muslim dan saya tidak tahu secara hukum bagaimana, tapi menurut saya, apa yang dilakukan klien saya ini adalah perpaduan antara belajar untuk mengikuti aturan agama dan mencintai hal-hal kecil di sekitar mereka. Dan tentunya, ini dilakukan dengan cara mereka sendiri, cara anak-anak yang lucu dan sederhana :-)

Tentang Hobi

Hobi adalah sesuatu menyenangkan yang dilakukan di waktu senggang, yang membuat kita siap kembali ke rutinitas sehari-hari :-)

St. Basil's Cathedral

Dan tak peduli berapa usia kita (sudah terlambat 20 tahun bagi saya untuk memulai hobi ini), dan seberapa banyak harus merogoh kocek, secara psikologis, saat melakukan hal yang menyenangkan seperti hobi, kita mengalami proses relaksasi emosi.

Selamat Ulang Tahun, Teman

Bahwa aku telah kehilanganmu, adalah kenyataan yang tidak bisa kuubah.
Bahwa aku terus mengenangmu, adalah hal yang akan selalu kulakukan.
Bahwa aku masih masih terjebak dalam perasaan kehilangan, adalah suatu hal yang harus aku perbaiki lagi.
Hidupmu telah berlabuh di suatu tempat yang damai. Tapi aku masih harus mengayuh dan bergerak maju.

Selamat ulang tahun, teman.
Rayakan suka citamu dalam kebahagiaan yang abadi.