Seragam Kotak-kotak Merah

Satu hal terakhir yang aku ingat tentang masa itu. Seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

Aku memandangimu berjalan sendiri dengan seragam kotak-kotak merah itu. Dan aku, dengan mengenakan seragam kotak-kotak merahku, hanya memandangimu, sambil terus diam tanpa kata. Lalu kita terpisah. Namun, aku masih sering memandangimu berjalan sendiri. Meski kita tak lagi mengenakan seragam yang sama. Meski tak lagi kita kenakan seragam kotak-kotak merah itu.

Dan cerita ini belum berakhir. Meski bukan lagi tentang seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

Rautan Pensil

Masih kuingat jelas satu percakapan pada masa itu. Seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

“Boleh pinjam rautanmu?” tanya seorang teman padaku. Aku terdiam. Aku tak tahu apa yang dia katakan.  Aku tak tahu apa itu rautan. Apalagi, aku takut dengan teman ini. Anak laki-laki yang selalu dibilang bu Guru sebagai anak yang paling nakal. Aku hanya diam. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Lalu, entah dari mana kau datang, “Oh, rautan?” tanyamu padanya, “Ini, pakai punyaku.” Kulihat kau memberikan sesuatu padanya. Oh, ternyata benda kecil yang sering kupakai untuk meruncingkan pensilku itu bernama rautan.

Ya, dalam percakapan itu kita tak saling bicara. Tapi aku senang kamu ada. Karena inilah satu-satunya potongan kenangan yang kuingat tentangmu pada masa itu. Seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

K-A-U

Kita berawal sebagai teman. Seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

‘K-A-U’. Sering kueja tiga huruf itu saat menonton film. Aku tidak tahu kenapa tiga huruf tersebut sering muncul pada teks di layar televisiku di setiap percakapan antara dua orang asing.

Lalu hari itu, guru kita datang padaku. Ia membawa teks drama dan memintaku untuk membacanya. Drama Natal itu adalah naskah pertama yang melatihku lancar membaca. Dan di sana, muncul lagi ketiga huruf itu: ‘K-A-U’. Aku membacanya dengan kaku. “Kaa-U,” begitu kataku, sambil memandang ragu pada bu guru. Lalu dengan sabarnya ia mengoreksi, “Oh, itu dibacanya ‘KAU’, bukan ‘Ka-U’.”

Ya, KAU.
KAU adalah diftong pertama yang kubaca.
Dan, KAU adalah pemeran utama cerita ini bersamaku.

Lalu berawal cerita ini. Seragam kotak-kotak merah, rautan pensil, dan pertama kalinya aku mengenal diftong.

Lakshmaṇa Rekhā

Dalam wiracarita Ramayana, Lakshmaṇa Rekhā adalah garis batas yang dibuat oleh Lakshmana, mengitari kediaman Rama dan Shinta untuk melindungi Shinta dari bahaya, saat Rama dan Lakshmana harus pergi. Garis ini akan melindungi kediaman mereka dari binatang buas atau apa pun yang mengancam. Shinta akan aman dari segala ancaman selama ia tidak keluar dari garis batas tersebut.

Tapi kelemahan Shinta (yang salah satu teman saya melakukan generalisasi dengan mengatakan: “bodohnya perempuan”) adalah ia tanpa sadar keluar dari batas itu saat ia iba melihat seorang Brahmana yang meminta sedekah. Brahmana yang ternyata adalah jelmaan dari Rahwana tersebut akhirnya menculik Shinta.

Entah laki-laki, entah perempuan, entah bodoh, entah tidak, akhir-akhir ini saya menyadari bahwa semua orang mempunyai batasan masing-masing seperti Lakshmaṇa Rekhā ini. Tidak semua seperti Shinta, tidak semua dengan mudahnya keluar dari batasan karena iba. Ada yang tetap diam dalam kecemasan di dalamnya. Ada pula yang keluar dengan bebasnya tanpa menghiraukan batasannya.

Dan bagi saya, salah satu keputusan tersulit yang mungkin dibuat setiap orang dalam hidupnya adalah menentukan saat yang tepat untuk melewati batas itu. Apa hal yang dapat menarik kita keluar dari batasan itu? Atau, apa hal yang bahkan lebih menarik lagi yang membuat kita ingin memasukkannya dalam garis batas, ada dalam ruang nyaman bersama kita?

26 tahun saya hidup dan saya merasa masih belum cukup dewasa untuk mampu memutuskan hal tersebut dengan benar.

Catatan mendadak di Minggu pagi setelah akhirnya mendapatkan kualitas tidur yang baik.

Tentang Menunda dan Tertunda

Image from sxc.hu

Saya ingat suatu hari ketika saya masih SMP, saya dan beberapa teman mengikuti suatu perlombaan yang diadakan sekolah lain. Kami berlatih selama beberapa waktu sebelum perlombaan, dan ternyata waktu latihan itu bertabrakan dengan jadwal ulangan umum. Kami harus belajar membagi waktu antara berlatih dan juga jadwal ulangan umum, padahal hari perlombaan sudah dekat.

Karena sangat gugup dan bingung, suatu hari seorang teman saya bertanya pada Pak Kepala Sekolah, “Pak, bolehkah jika khusus untuk kami yang ikut lomba, diberikan keringanan agar ulangan umumnya ditunda? Kami sangat bingung antara harus fokus latihan dan belajar untuk ulangan umum.”

Waktu itu saya masih SMP. Masih cupu dan belum banyak tahu tentang pelajaran hidup. Karena itu, jawaban Bapak Kepala Sekolah masih sangat-sangat membekas di ingatan saya. Beliau bilang, “Oke, jika ulangan umum untuk kalian ditunda, apakah kalian merasa lega? Kalian mungkin bisa lega sebentar, tapi setelah itu, setelah teman-teman yang lain selesai ulangan umum, kalian masih harus belajar untuk ulangan umum. Jadi sama saja, perasaan gugup dan bingung kalian cuma tertunda sebentar, tapi setelah itu masih ada. Akan lebih baik kalau kalian menyelesaikan kedua tugas itu segera, dan setelah itu benar-benar merasa lega.”

Itu pelajaran sederhana yang mungkin semua orang sudah pahami. Tapi hal ini masih membekas di ingatan saya karena Bapak Kepala Sekolah saya yang menyampaikan itu. Dari situ, saya pun berusaha untuk tidak menunda-nunda tugas saya, karena penundaan hanya membuat saya merasa tenang sesaat, tapi tugas tidak terselesaikan. Tapi saya hanya berusaha untuk tidak menunda ya. Prakteknya, sih usahanya sering gagal :-D

Lalu saat ini, terkait dengan tugas saya, saya mengalami suatu rintangan yang cukup mendebarkan buat saya. Saya bisa bilang saya dibuat frustasi karena masalah ini. Saya mengumpulkan seluruh keberanian saya untuk menghadapinya, meskipun saya takut setengah mati. Tapi kali ini, situasinya berbeda. Usaha saya untuk menghadapi rintangan ini tertunda, bukan saya yang menunda, dan ini di luar kuasa saya.

Memang sih, di hati kecil saya ada sedikit keinginan yang berkata, “Udah deh, tugas ini ditunda aja, atau dilimpahkan ke orang lain.” Tetapi saya berusaha sekuat tenaga untuk bertanggung jawab dan tidak menunda. Lalu ternyata ketika saya sudah berniat menyelesaikan, tugas ini malah tertunda karena beberapa hal. Sudah dua kali tertunda. Dua kali saya berusaha mengumpulkan seluruh keberanian saya, dan akhirnya tertunda lagi. Lalu besok, saya harus berusaha menghadapinya lagi?

Bagaimana perasaan saya? Mmmm… entahlah. Saya bingung.  Kecemasan dan kegugupan bercampur jadi satu dan saya bingung bagaimana mengatasinya. Saya juga tidak tahu apalagi yang bisa saya lakukan kecuali dengan menulis tulisan ini.

Sinterklas dan Permohonan Saya

Santa PapercraftSuatu hari, ketika saya masih kecil, kakak saya memberitahu saya bahwa Sinterklas akan datang pada malam Natal. Tradisi di Barat, kata dia waktu itu, adalah menaruh rumput di kaos kaki yang biasanya digantung di dekat perapian. Sinterklas akan datang lewat cerobong asap, lalu menaruh hadiah di kaos kaki itu. Tapi, lagi-lagi kata kakak saya, karena di rumah kami tidak ada cerobong asap, dan tidak ada tempat untuk menggantung kaos kaki, jadi, rumput ditaruh di sepatu, dan diletakkan di rak sepatu.

Malam itu, kami bersemangat. Keluar rumah, mengambil rumput di halaman, menaruhnya di sepatu, lalu berdoa meminta hadiah dari Sinterklas. Paginya, voila, hadiah muncul di atas sepatu kami. Dan itu terjadi tiap tahun. Tapi sejujurnya, saya kecewa. Bagaimana tidak? Saya tidak pernah berhasil menahan kantuk dan selalu tidur sebelum Sinterklas datang. Dan saya pikir, karena itulah, hadiah yang saya dapatkan selalu berbeda dengan permohonan dalam doa saya. Saya sampai tidak begitu ingat kado apa saja yang pernah saya dapat. Kado terbaik yang saya ingat adalah rautan pensil besar. Mmm, saya rasa Santa bercanda deh.

Pernah suatu malam Natal, saya berhasil bertahan hingga tengah malam. Kebetulan waktu itu, Pakdhe saya datang ke rumah sambil membawakan sebuah boneka beruang untuk kami, yang kemudian kami namai Luna. Orang tua saya bilang, tahun ini Pakdhe yang jadi Sinterklas. Saya tidak percaya. Pakdhe saya, Jawa tulen, kulit sawo matang, badan kurus, rambut hitam, dan tak punya jenggot. Jelas saja beliau jauh berbeda dengan Santa. Malam itu, Pakdhe mengobrol dengan orang tua saya sampai larut malam. Saya ikut terjaga dan berharap bisa bertemu Sinterklas. Tapi, ternyata Sinterklas tidak datang. Oh, jadi begitu rupanya. Karena Pakdhe sudah memberi kami hadiah Natal, lalu Sinterklas merasa dibebastugaskan dan boleh melewatkan rumah saya. Lagi-lagi saya kecewa.

Papercraft - Christmas' SockSinterklas, bagi saya, tidak seperti film-film yang saya lihat di televisi. Sinterklas yang sesungguhnya, yang saya tahu, tidak selalu memberikan semua hal yang kita mohonkan. Ya mungkin saya kecewa. Tapi dari situ saya belajar, bahwa kita boleh saya memohonkan sesuatu, tapi kita juga harus siap untuk menerima bahwa yang kita dapatkan belum tentu apa yang kita mohonkan. Dan tetap kita harus bersyukur atas apa yang kita dapatkan, jangan seperti saya yang kecewa dan lupa bersyukur. Kadang, ketika kita terlalu memohon sesuatu, kita jadi kurang menyadari apa yang sudah kita dapatkan. Ya, seperti saya yang kurang menyadari betapa beruntungnya saya mendapatkan Luna, rautan pensil, dan hadiah-hadiah lain yang terlupa dari ingatan saya.

Kalau Sinterklas tidak mengajarkan itu pada saya sejak kecil, mungkin sekarang saya akan kaget dan bingung tiap kali keinginan saya tidak terwujud. Jadi, terimakasih, Kakek Sinterklas (Anda sudah terlalu tua untuk dipanggil Pak). Terimakasih untuk pelajaran yang Anda berikan dalam hidup. (Meskipun saya masih penasaran, masa tidak sekalipun permohonan Natal saya dikabulkan?)

Selamat Natal, semuanya.
Semoga semua harapan dan permohonan terkabul. Jika belum terkabul, itu mungkin karena kita memang sudah mempunyai banyak hal untuk disyukuri :-)