Suatu hari saya pernah bermain halma dengan teman saya dan seorang klien saya, yang masih berusia SD. Masing-masing dari kami harus menggerakkan seluruh bidak halma yang kami miliki ke daerah musuh. Logikanya, kalau semakin banyak kita menyerang, semakin pertahanan kita melemah, tapi kemungkinan untuk menang lebih tinggi. Sebaliknya, semakin kita bertahan, memang musuh jadi tidak bisa menyerang kita, tapi kita pun jadi tidak bisa menang.
Saya dan teman saya bermain menyerang, dan dengan sigap kami berhasil menguasai daerah musuh yang kosong. Tapi tidak klien saya. Ia tetap bertahan di tempatnya, ia sama sekali tidak mau menyerang, sampai akhirnya sudah mentok. Sudah tidak ada lagi gerakan yang mungkin dilakukan, kecuali jika dia mau keluar dari sarangnya. Tapi ia tetap tidak mau keluar dari sarangnya. Lalu akhirnya, dia mutung. Memberantakkan papan halmanya dan memalingkan muka.
Saya tidak ingin bercerita tentang bagaimana dua orang dewasa, yaitu saya dan teman saya, berusaha mengalahkan seorang anak SD di permainan halma. Ada alasan tersendiri kenapa kami melakukannya di sesi terapi tersebut. Tapi ini lebih tentang kalah dan menang, dan bagaimana kita mengatasinya. Memang selalu ada risiko jika kita ingin memenangkan sesuatu. Ada yang harus kita korbankan untuk meraih mimpi kita. Dan dalam usaha memenangkan sesuatu, mungkin saja kita akan jatuh dan kalah. Tapi ini hanyalah proses, yang jauh lebih berharga ketimbang hanya diam dan takut menghadapi kemungkinan untuk kalah. Ketimbang hanya diam, dan membiarkan semua impian terbang jauh.
Ini adalah hal yang ingin disampaikan teman saya (yang sebetulnya adalah senior saya) kepada klien saya. Dan untungnya saya juga berada di sana saat itu, jadi saya bisa ikut belajar tentang kalah dan menang, serta berproses.
Lesson learned.