Tamu dari Jauh

Rasa ngilu ini masih terus melintasi kepalanya. Mereka seperti ikan yang berenang bahagia di alur sungainya. Lekukan-lekukan di kulit kepalanya terasa seperti batu kali. Ikan-ikan kecil berenang melewatinya sambil bersorak. Semakin mereka bersorak, semakin ngilu ini menyengat. Namun bagi Bodhi, sengatan ini bukan hal perlu dicemaskan. Tak pernah sekalipun ia ingin rasa ngilu ini pergi. Kalau saja bukan Bong yang mencemaskannya, ia tak akan sampai ke klinik ini.

“Saya tak bisa menyembuhkan orang yang tidak mau sembuh,” kata Elektra. Bodhi mengangguk. Ia ingat, saking putus asanya, Bong pernah membawanya ke psikiater. Bukannya meminum Xanax yang diberikan, Bodhi mengumpulkan obat anti depresan itu dan menyimpannya sebagai senjata cadangan. Ia tidak ingin sembuh. Kematian tampak lebih menarik baginya.

“Permisi,” Mas Yono tiba-tiba memecah kesunyian, “Ini ada tamu nyariin mas Budi.” Belum sempat Bodhi mengoreksi namanya, perhatiannya teralih pada pria yang berada di belakang Mas Yono.

“Mbak Etra, ini namanya Mas Thomas Alfa Edison dari Amerika,” kata Mas Yono memperkenalkan tamu itu.

Elektra terdiam. Meski tidak menyentuh Bodhi, ia bisa merasakan ada marah yang membara padanya. Ribuan tahun cahaya tak akan bisa memadamkan amarah ini. Tapi tamu ini tetap berdiri dengan tenang. Ia tersenyum tipis tanpa rasa takut.

Emosi Negatif: Boleh atau Tidak Boleh?

Pagi ini, di sela-sela banyaknya deadline yang menghujani pekan ini, saya sempatkan chat dengan seorang sahabat lama yang sepertinya lagi galau. Entah karena PMS atau tidak, tapi saya memang merasa dia sedang in blue.

In blue, galau, moodswing, atau apa pun itu kadang datang tanpa kita bisa sadari. Hal ini kadang membuat kita bertanya-tanya pada diri sendiri: “Saya sehat atau tidak sih?” Sehat yang dimaksud tentunya adalah sehat secara psikologis. Nah, untuk menentukan apakah seseorang sehat psikologis, atau jangan-jangan mempunyai diagnosis psikologis tertentu, memang ada prosedurnya sendiri di ranah psikologi klinis. Tapi kali ini, saya tidak sedang ingin membahas soal itu. Saya ingin meletakkan sebentar kemungkinan-kemungkinan diagnosis buruk yang bisa saja kita dapatkan, dan mencoba melakukan sesuatu terhadap moodswing tersebut.

Bagaimana caranya? Saya bukanlah ahli tentang ini. Saya sendiri masih belajar mengatasi kegalauan saya. Beruntung, selama dua bulan kemarin saya tinggal bersama seorang teman yang mempelajari Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). Saya tidak akan membahas REBT secara keseluruhan, tapi saya hanya akan mengambil satu bagian tentang bagaimana REBT memandang emosi negatif. Terima kasih banyak untuk roommate saya, Pauline Pantauw yang banyak mengajarkan hal ini pada saya.

Perlukah seseorang merasakan emosi negatif? Emosi negatif, seperti takut, marah, sedih, dan lain sebagainya tentu saja masih perlu dirasakan tiap manusia. Kalau kita tidak pernah merasa takut, kita bisa saja jadi seenaknya bersikap ke orang lain. Jika kita tidak pernah marah, mungkin kita akan di-bully terus oleh orang lain. Jika ada suatu peristiwa yang menyedihkan, ya memang wajar ketika kita sedih. Jadi emosi negatif itu adalah suatu hal yang perlu dan wajar dialami tiap manusia.

Tapi jangan lupa, emosi negatif bisa punya dua bentuk: sehat atau tidak sehat. Saya sempat berbicara dengan beberapa klien mengenai salah satu emosi negatif, yaitu iri. Boleh tidak sih kita iri? Hmm… Ketika iri masih membuat kita termotivasi untuk bisa meraih prestasi seperti orang lain, tentunya itu adalah bentuk iri yang masih sehat. Tapi iri bisa jadi tidak sehat. Kata seorang klien saya, iri yang tidak sehat itu ketika kita sudah ingin mengambil atau merebut hak orang lain. Seorang klien saya yang lain menggambarkannya secara lebih keras. Baginya, iri yang tidak sehat itu ketika ia sudah ingin menghancurkan orang lain.

Bentuk emosi negatif yang lain adalah cemas. Misalnya, sering terjadi pada orangtua yang mencemaskan anaknya. Sedikit saja anaknya jatuh atau terluka, orangtua menunjukkan rasa cemas. Cemas menjadi suatu emosi negatif yang tidak sehat. Padahal cemas merupakan bentuk lain dari peduli. Di mana bedanya? Baik cemas maupun peduli sama-sama melibatkan adanya perhatian pada orang lain. Namun orang yang cemas seringkali terlihat tidak tenang, jantung berdegup kencang, salah tingkah, dan menunjukkan banyak gejala fisik lain. Akibatnya, emosi negatif menjadi berlebihan dan ia tidak fokus memperhatikan orang lain. Di sisi lain, ketika seseorang peduli pada orang lain tanpa ada rasa cemas, ia bisa fokus memperhatikan dengan tenang.

Nah, oleh karena itu, setiap kali kita merasakan emosi negatif, kita tidak perlu menyangkal emosi tersebut. Ketika kita merasa sedih, kita tidak perlu merasa bahwa kesedihan ini tidak perlu dan kita harus jadi senang. Sedih kadang-kadang juga perlu kok, selama masih sehat. Yang kita perlu lakukan adalah mengganti kata-kata yang ada di pikiran sehingga emosi negatif yang dirasakan tetap sehat dan tetap membuat kita produktif.

Berikut contoh kata-kata yang bisa diganti:

  • Daripada berkata “Aku cemas terhadap…” lebih baik mengatakan “Aku peduli terhadap…”
  • Daripada berpikir “Aku benci terhadap…” lebih baik mengatakan “Aku kesal terhadap…” (Di mana bedanya? Nah, kata ‘benci’ biasanya mengacu pada satu orang secara keseluruhan, sedangkan kata ‘kesal’ biasanya hanya mengacu pada salah satu atau beberapa perilaku dari orang tersebut.)
  • Daripada berkata “Aku merasa bersalah tentang…” lebih baik berkata “Aku merasa bertanggung jawab tentang…” (Iya, kata tanggung jawab terdengar lebih produktif dibandingkan merasa bersalah)
  • Daripada berpikir “Aku depresi karena…” lebih baik berpikir “Aku sedang sedih karena…”

Dan tentunya masih banyak hal-hal lain yang bisa kita ubah sendiri. Pada intinya, mencari kata-kata yang lebih positif tanpa melawan emosi negatif yang dirasakan. Emosi negatif memang perlu ada tapi jangan sampai membuat kita kehilangan rasa tenang dan produktivitas. :-)

Tentang Benci

Seseorang yang saya kenal pernah mengatakan bahwa manusia itu mirip dengan orang yang dibencinya. Saya setuju. Bagi saya, hanya sesuatu yang mempunyai muatan emosi kuat yang bisa membuat kita membencinya. Muatan emosi kuat yang juga kita miliki dalam diri kita. Bak magnet, kutub utara tidak akan pernah mau bertemu dengan kutub utara lain. Mereka selalu berlawanan, padahal mereka sama.

Beberapa bulan setelah saya memahami perkataannya, entah kenapa saya menjadi orang yang saya benci. Hal-hal yang tidak saya sukai dari orang yang saya benci, tanpa saya sadar, saya lakukan kepada orang yang saya sebut di awal tulisan ini, juga kepada seorang teman saya dalam skala yang lebih kecil. Ia pun mengingatkan saya. Saya menyesal. Saya berlutut memohon ampun pada Tuhan. Tapi memang sudah terlambat.

Saya meminta maaf, tapi saya sendiri mengerti. Kata maaf, jika tidak diimbangi dengan perbaikan, adalah sia-sia. Kata maaf menjadi sekedar bentuk egoisme untuk menyelamatkan diri agar tidak disalahkan. Jadi saya harus memberikan lebih dari sekedar maaf.

Itulah mengapa saya membuat tulisan ini untuk mengingatkan diri saya. Saya akan berusaha mengurangi rasa benci saya. Ketika benci kepada orang lain itu hilang, bagian diri saya yang mirip dengannya pun, semoga, ikut hilang.

PS: Ketika saya membahas ini dengan seorang teman via chat, karena saya terkesan serius, dia menjadi khawatir dan berharap saya tidak sedang bicara serius sambil minum minuman keras. Hahaha. Tentu tidak, saya masih baik-baik saja. Cuma lagi serius aja detik ini. Entah beberapa detik lagi. :-D

Asam Sulfat

Beberapa waktu yang lalu terdengar berita tentang bocornya salah satu truk pembawa Asam Sulfat karena kecelakaan. Satu korban tewas. Cairan asam sulfat ini mengalir melalui kolong, menyatu dengan udara, merampas oksigen, dan mencekik seorang tunawisma yang tengah tertidur. Turut berbelasungkawa….

Dan,
ada satu hal yang saya pelajari di sini.

Bahwa rintangan dan rasa sakit tidaklah selalu terlihat. Ia bisa menelusup diam-diam, menyatu dengan segala hal yang ada di sekitar kita, tapi tetap punya kekuatan untuk menyakiti kita. Pengalaman traumatis, pola asuh orangtua, atau perilaku-perilaku buruk kita, mungkin adalah bagian darinya. Jika kita tidak menyadarinya, perlahan-lahan, hal-hal itu bisa mencekik hati kita.

Bertahan hidup berarti mempertahankan kesadaran.

Saya dan Kucing

Sewaktu kecil seorang anak dari teman Papa datang ke rumah. Ia melihat beberapa ekor anak kucing terbuang di sebuah kardus di dekat rumah saya. Dia bilang pada saya, mereka ini lucu. Saya mendekat, berusaha mengamati mereka lebih dekat. Lalu mereka melihat ke arah saya, mengeong dengan lebih kencang dan berusaha menghampiri saya. Saya lari. Mereka mungkin bisa mencakar saya. Saya bersembunyi di balik pintu. Lalu pergi.

Saya tak pernah suka kucing.

Beberapa tahun berlalu, beberapa teman heran karena saya tidak menyukai hewan berbulu yang mereka sebut lucu ini. Teman saya berusaha membuat saya menyukai kucing. Ia mendekatkan kucing pada saya. Saya pun menjauh -saya tak suka dipaksa. Semakin saya menjauh, semakin teman saya berusaha.

Saya semakin tak suka pada kucing.

Suatu hari sepulang kantor, seekor anak kucing nangkring di depan pintu kamar kos saya. Saya diam. Saya takut. Saya ingin masuk. Tapi saya tak bisa. Saya berusaha mengusirnya. Dia hanya diam saja melihat saya tak bergeming. Saya berdiam cukup lama hingga akhirnya ia pergi sendiri.

Ya, saya takut pada kucing.

Semakin saya tak suka, semakin pula saya bereaksi pada kucing. Beberapa kucing sering berkeliaran di rumah makan di dekat tempat kerja saya. Setiap kali saya makan di sana, saya merasa tak tenang. Kucing bisa menghampiri di kaki saya. Saya kaget dan bersuara keras.

Saya semakin takut pada kucing.

Suatu hari saya pulang ke rumah dalam keadaan marah. Saya kesal. Ketika membuka pagar, seekor kucing berdiam di situ. Saya melihatnya, tak lagi takut. Saya marah. Saya katakan padanya, “Get the fuck out of here.” Dan dia pergi.

Saya tak lagi takut pada kucing.

Tapi waktu berlalu. Berbagai hal telah terjadi. Sehingga saya tak lagi takut pada kucing. Saya tidak lagi terlalu membencinya. Tidak pula menjadi menyukainya. Saya hanya merasa biasa saja. Saya bisa mengusirnya. Saya bisa lewat begitu saja di depannya tanpa merasa takut.

—-

Lalu, datanglah sebuah mimpi malam itu. Saya sedang berjalan, dan saya melihat beberapa ekor anak kucing di dekat saya. Dalam mimpi itu, saya berjalan biasa saja melewati mereka, yang jaraknya tidak begitu dekat dengan saya. Toh, saya tak lagi takut pada mereka. Anak-anak kucing itu juga tidak terlalu memperhatikan saya. Setelah beberapa langkah saya berjalan, setelah saya kira saya sudah melewati mereka, tiba-tiba saja, mereka berlari menghampiri saya. Mereka mendatangi saya dan mengerumuni kaki saya. Saya kaget. Saya terbangun, ketakutan.

Tentang Hidup dan Fantasi

“Your fear is your own fantasy,” kata dosen saya, yang membuat saya hanya diam terpana. “Hal-hal yang kamu alami adalah nyata. Tetapi, emosi yang kamu alami karena hal tersebut adalah persepsimu sendiri,” lanjutnya.

Ya, dalam kuliah tentang Psikoanalisis tersebut saya kemudian menyadari. Setiap manusia bisa mengalami berbagai kejadian tapi tanggapan terhadap situasi tersebut berbeda-beda. Dua orang terkena musibah yang sama. Yang satu bersyukur, yang satu mengeluh. Dua orang dipukul sama kerasnya, yang satu bertahan, yang satu menyerah.

Memandang musibah sebagai hal untuk disyukuri atau dikeluhkan adalah persepsi kita masing-masing. Memilih untuk bertahan atau menyerah adalah fantasi yang kita buat sendiri mengenai pukulan tersebut.

Dan bayangkan jika manusia bisa mengendalikan fantasinya. Seseorang membentakmu. Kamu bisa merasa bersalah atau balik memarahinya. Tapi kemudian kamu menyadari bahwa rasa bersalah atau marah itu hanyalah fantasi. Kamu berdiri tegak menghadapnya dan hanya tersenyum saja mendengar bentakannya. Bayangkan jika manusia bisa mengendalikan semua perasaannya. Mungkin hidupnya terasa lebih ringan. Saya sempat menginginkannya.

Tapi kemudian, saya mulai menemukan seorang teman yang menurut saya bisa melakukannya. Mengendalikan dan meregulasi semua perasaan yang ia punya. Perasan marah, sedih, senang, takut, dan bahkan cinta. Ia bisa mengendalikannya. Melihatnya, saya merasa ngeri.

Dan kemudian saya bersyukur bahwa saya ngga jago-jago amat mengendalikan perasaan saya.